Rintangan Amal Islami

24 Okt 2012

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS Al-Ankabut: 2-3).
Ayat ini memiliki korelasi dengan QS Al-Hujurat: 14, “Orang-orang Arab Badwi itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka), ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk,’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Allah Swt. menegaskan bahwa di dalam keimanan itu ada ujian. Maka, dengan menguji iman, kualitas ketaqwaan seseorang akan berbeda-beda. Semakin kokoh keimanan seseorang, semakin berat ujiannya. Inilah yang digambarkan oleh Allah Swt. di dalam QS Fathir: 32, “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”
Ujian keimanan harus ada untuk mematangkan dan mengokohkan keimanan itu sendiri. Orang-orang Mukmin yang lulus dalam ujian keimanannya dan merasa tenang dengan keimanannya itu akan meningkat derajatnya di sisi Allah Swt. Dan Allah akan menambahkan keimanan kepada Mukmin tersebut disamping keimanan yang telah ada di dalam dadanya. “Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu'min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS Al-Fath: 4).
Ujian keimanan pada dasarnya adalah ujian atas amal shaleh. Karena untuk menguji kebenaran iman seseorang, Allah Swt. menggunakan parameter amal shaleh. Oleh karena itu, Allah Swt. menyandingkan kata iman dan amal shaleh tidak kurang dari 90 tempat di dalam Al-Qur`an. Ini menandakan bahwa amal shaleh merupakan realisasi dari keimanan. Ujian atas amal shaleh bisa berasal dari dalam dan dari luar. Rasulullah Saw. dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Lai mengatakan, “Orang Mukmin senantiasa berada di antara lima ancaman berat, yaitu Mukmin yang mendengkinya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, syetan yang menyesatkannya, dan hanwa nafsu yang melawannya.”
Meski dari kelima ancaman di atas rintangan eksternal lebih dominan ketimbang rintangan internal, akan tetapi dari sisi kualitas, rintangan internal (hawa nafsu) justru lebih besar dibandingkan keempat rintangan eksternal di atas. Rasulullah Saw., “Mengatakan ada tiga hal yang merupakan pangkal kebinasaan, ketiga hal tersebut adalah kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ‘ujub seseorang kepada dirinya sendiri” (HR Muslim). Kalau kita cermati ketiga hal yang merupakan pangkal kebinasaan itu semuanya bersumber dari mengikuti hawa nafsu.
Tulisan ini akan memfokuskan pada tantangan yang bersifat internal, yaitu “hawa nafsu yang melawannya”. Selain kikir, nafsu, dan ‘ujub yang merupakan pangkal kebinasaan, rintangan hawa nafsu juga memiliki varian lain yang bersifat pemikiran atau kejiwaan. Salah satunya adalah rintangan keputusasaan akan manfaat amal Islami. Sebagian kaum Muslimin yang memiliki komitmen keagamaan ada yang meninggalkan amal Islami lantaran putus asa akan masa depan Islam. Mereka menganggap bahwa seluruh amal Islami yang dilakukan umat Islam ibarat tanaman yang tidak menghasilkan buah.
Kelompok ini mengatakan, “Amal Islami yang dilakukan oleh gerakan Islam telah berlangsung puluhan tahun, tetapi hingga saat ini kita belum melihat satu pun negara yang berhasil mencapai tujuan dan target yang dijanjikan. Bahkan, kita melihat gerakan keislaman itu dihantam dari luar dan gerogoti dari dalam. Maka apa yang bisa kita harapkan dari sebuah amal Islami yang tidak bisa mencapai tujuannya?” Akhirnya, mereka menyimpulkan bahwa amal yang mengatasnamakan Islam tidak memiliki masa depan yang cerah.
Gejala keputusasaan dalam menyemai nilai-nilai Islam melalui gerakan yang sistematis juga melanda kalangan politisi dan pengamat politik Islam. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa partai politik yang membawa nafas Islam tidak pernah akan menang. Mereka menggunakan sejarah partai politik Islam di Indonesia sebagai dasar argumentasinya. Akibat pandangan yang bernuansa keputusasaan itu, beberapa partai politik Islam menanggalkan ciri khas keislamannya dan mengganti asasnya dengan asas yang bukan Islam.
Menanggapi pandangan miring seperti itu, Al-Qur`an al-Karim menjelaskan bahwa putus asa bukanlah watak atau karakter Islam, sebagaimana firman Allah Swt., “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir” (QS Yusuf: 87).
Seorang Muslim sejati tidak akan pernah putus asa ataupun patah semangat. Ia tahu bahwa setelah hari ini selalu ada hari esok, setelah kesulitan pasti ada kemudahan, setelah malam akan datang waktu fajar. Tidak mungkin kesedihan akan terus merundung selamanya. Karena banyak realita hari ini yang bermula dari mimpi hari kemarin, maka tak mustahil mimpi-mimpi hari ini akan menjadi kenyataan di hari esok.
Seorang Muslim berbuat tidak hanya untuk meraih keberhasilan atau pun kemenangan, tapi ia berbuat untuk menjalankan perintah Allah Swt., memenuhi hak penyembahan-Nya, serta mengharapkan ridha-Nya. Maka jika jika kemudian ia mencapai keberhasilan dalam usahanya, itu merupakan kebaikan, berkah, serta nikmat dari Allah Swt.
Dan kalau pun hal itu tidak terwujud, maka ia telah memenuhi kewajiban terhadap Allah Swt. Sesungguhnya di hari Kiamat nanti, Allah Swt. tidak akan menanyai manusia, “Mengapa mereka tidak berhasil atau menang?” Akan tetapo, Allah Swt. akan menanyai mereka, “Mengapa mereka tidak berbuat?”
Dalam sejarah para Nabi dan Salafush Shalih, kita menemukan banyak di antara mereka yang syahid sebelum mewujudkan cita-cita perjuangannya. Kisah Ash-Habul Ukhdud adalah salah satunya. Begitu juga Asy-Syahid Hasan al-Banna yang wafat dibunuh, belum sempat memetik buah perjuangannya, yaitu Islam sebagai soko guru peradaban dunia (ustadziyatul alam).
Maka, cukuplah bagi kita firman Allah Swt. di dalam QS Al-A’raf: 164-165, “Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, ‘Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?’ Mereka menjawab, ‘Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.’ Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.”
Bentuk lain dari varian hawa nafsu yang bersifat pemikiran atau kejiwaan adalah tantangan idealisme utopis. Ada sebagian umat Islam yang hidup di menara gading, di dunia teori yang idealis. Mereka menempatkan dirinya sebagai komentator atau pengamat yang selalu bicara “seharusnya demikian”. Mereka mendambakan agar segala sesuatu dimulai secara sempurna. Mereka mendambakan bulan selalu purnama. Tanaman berbuah sejak awal benih ditebarkan.
Mereka menginginkan gerakan keislaman lahir langsung besar tanpa melalui tahapan pertumbuhan, tidak bergesekan dengan penyakit-penyakit lingkungan, tidak bertambrakan dengan virus kehidupan, atau tidak menemui jalan berliku dan panjang. Mereka menginginkan gerakan keislaman berjalan mulus, tanpa ada hambatan yang berarti. Namun, amat disayangkan, umumnya kaum idealis utopis ini hanya mahir dalam kata-kata. Yang mereka miliki hanyalah teori yang panjang di atas pundak yang pendek, pandai dalam mengritik, tapi lemah dalam berbuat. Memiliki semangat merobohkan, dan berpangku tangan dalam membangun. Mereka memiliki angan-angan panjang, tapi tangan dan kaki pendek.
Perhatian utama dari kaum idealis utopis ini adalah melacak pelbagai kekurangan dan kesalahan orang-orang yang berbuat, mengumpulkannya dari sana-sini, lalu menyorotnya dengan kaca pembesar. Maka sebutir biji pun tampak seperti kubah besar, dan semut tampak seperti gajah.
Mereka tidak memperhitungkan rintangan-rintangan orang-orang yang berbuat dan beramal. Tidak berusaha berbaik sangka kepada orang lain. Tidak menghitung peluang yang ada dalam situasi dan kondisi yang terbatas. Mereka kurang mengetahui bahwa segala sesuatu memiliki aturan mainnya sendiri. Karena tidak pernah berbuat, kita tak pernah melihat mereka melakukan kesalahan. Sebab, kesalahan adalah efek dari ijtihad dalam berbuat.
Rintangan keputusasaan dan idealisme utopis adalah dua dari sejumlah rintangan pemikiran dan kejiwaan yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri. Oleh karena itu, setiap Muslim harus senantiasa meningkatkan pemahaman keislamannnya, dan mulai menjadi orang pertama yang menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Hanya dengan membuktikan keimanan dalam bentuk amal nyata, setiap Muslim akan semakin dewasa dan matang dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh dengan ujian dan cobaan. Wallahu a’lam bishshawab.

0 comments:

Posting Komentar

 
Syamsu Hilal © 2011 | Dikunceni Kang Zack, Kunjungi Juga Suswono, Kementan dan Atang Trisnanto